“ Pa, lama banget sih sampainya? Masih jauh ya…”
“Sabar sayang. Sebentar lagi juga sampai.”
Huh… Papa ini. Semenjak tadi hanya itu yang diucapkannya. Aku bosan mendengarnya.
Namaku Kaoru Andromeda. Usiaku 16 tahun. Ayahku seorang pengusaha terkenal. Ibuku seorang wanita karier yang hebat. Semua orang tahu itu. Dan semua orang tahu mengenai perceraian kedua orang tuaku. Pertama kali aku mendengar keputusan ini, aku sangat terkejut. Aku tidak siap jika harus tinggal dengan salah satu orang tuaku atau bahkan tidak dengan keduanya, alias nge-kost. Oh.. tidak. Tapi apa yang bias kuperbuat. Keputusan yang mereka buat sudah bulat. Tak bisa ditawar lagi. Dan akhirnya seperti ini. Aku harus tinggal di dua apartemen. Seminggu di apartemen bunda. Seminggu lagi di apartemen papa. Coba kalian bayangkan, betapa repotnya harus berpindah tempat tinggal setiap minggu.
“Pa, kita mau kemana sih sebenarnya? Kok jauh banget yah… Terus kenapa kita bawa koper? Papa mau pindah apartemen yah?”
“Ehm… yah mungkin bisa dibilang seperti itu.”
“Memang kenapa sama apartemen yang lama?”
“Tidak apa-apa . Hanya saja kamu harus papa jauhkan dari bundamu itu.”
“HAH?!?!? Jadi kita pergi dalam rangka menghindari bunda, begitu? Aku nggak menyangka, Papa ingin misahin aku dari bunda. Pa, Bunda itu ibu kandung aku. Apa salah aku dekat dengannya? Aku masih memerlukan kasih sayangnya… Lho, kenapa berhenti Pa? Pa, kok keluar?”
Huh… Pusing banget. Aku nggak ngerti sama Papa. Aku harus bicara.
“Pa, jangan ngerokok. Kan sudah janji.” Ujarku mengingatkan. “Pa, kenapa sih papa mau misahin aku sama bunda? Papa tahukan dari dulu aku sudah dekat sama bunda. Dulu Papa nggak kayak begini.” Ujarku lagi.
“Papa mau ke toko seberang. Kamu mau titip apa?” tanya Papa.
“Nggak.” Sahutku singkat.
“Ya sudah.” sahutnya tak kalah singkat.
Papa ini. Kenapa tidak mau mengerti anakmu sedikit?
“Ehm? PAPA..AWAS…!!!”
Rabu, 3 Maret 2002.
“Ini sayang, minum kamu.”
“Makasih Pa. Pa bunda mana? Belum datang yah?”
“Belum. Mungkin sebentar lagi.”
Hem… Bunda lama sekali. Aku sudah tak sabar ingin cerita kepadanya. Tentang kesedihan yang kurasakan sejak 4 tahun yang lalu… Kecelakaan yang tidak hanya membuatku trauma dengan suara klakson mobil, tetapi juga membuatku kehilangan kedua mataku. Yah, sekarang aku menjadi gadis buta yang tak bisa melakukan apa-apa tanpa tongkatku.
Minggu, 4 April 2002. Hari ini cerah. Itu yang kudengar dari Papa. Papa juga bilang, akan mengajakku berjalan-jalan ke suatu tempat. Papa bilang tempatnya sangat indah. Tapi aku tak bisa melihat. Aku takkan tahu seperti apa keindahan tempat itu. Lebih baik aku cepat menyelesaikan sarapanku.
“Sayang, kamu sudah selesai sarapan? Ayo kita berangkat.” tanya Papa.
“Sudah Pa. Ayo.” Ujarku antara bersemangat dan tidak.
Hembusan anginnya sangat terasa. Begitu sejuk. Sangat menenangkan hati. Sepertinya tempat ini memang indah. Seandainya aku bisa melihatnya…
“Kaoru… Ayo sayang, pegang tangan Papa. Hati-hati sayang. Itu Bunda kamu.”
“Bunda? Bunda datang Pa?” ujarku senang.
“Iya sayang. Dialah yang memberikan ide ini. Halo Sheina, apa kabar?” kata Papa.
“Hai Jeff.. Baik. Hai sayang... Mama kangen sekali sama kamu. Apa kabar? Kamu sehat? Bagaimana, apa kamu suka keadaan di sini?” ujar Bunda.
“Bunda… aku kangen banget sama Bunda… Aku sehat. Iya, aku suka. Keadaan di sini begitu tenang. Bunda apakah di dekat sini ada danau atau sungai? Aku seperti mendengar suara air.” Ujarku dengan semangat.
“Benar kok. Memang ada danau. Kamu mau main air? Biar Bunda antar.” sahut Bunda.
“Iya Bunda.”
Wah… airnya segar sekali. Bunda bilang airnya juga jernih. Ternyata di Jakarta ada tempat sebagus ini… Ehm… ada suara orang. Sepertinya laki-laki. Dari suaranya sepertinya sebaya denganku. Ehm… Enak sekali bisa jalan-jalan sama teman-teman. Sejak mataku buta, tak ada temanku yang mau mengajakku jalan-jalan. Aku sangat iri. Mereka bisa tertawa lepas. Sudah saja ah… Di sini semakin membuatku iri. Tiba-tiba…
“KYAA…!!” seruku. Aku jatuh. Aku nggak bisa berdiri. Dimana tongkatku.
“Kamu baik-baik saja? Bisa berdiri? Pegang tanganku.”
Kamis, 10 Oktober 2002.
“Sayang. Refa datang...”
Refa sudah datang. Nakamura Refa, pacarku yang sangat baik sudah datang. Dia ini blasteran Jepang dan Indonesia. Walaupun sudah tinggal di Indonesia cukup lama, aksennya tetap aksen asli orang Jepang. Tepatnya sih Osaka.
“Iya pa, aku turun.” sahutku.
“Nggak perlu turun… Aku sudah di sini kok. Hehehe…” sahut Refa dengan aksennya yang khas.
“Kok nggak ada suara naik tangga. Wah kamu melayang yah?” tanyaku.
“Nggak, aku pakai tali, makanya nggak ada suara naik tangga.” Sahutnya nggak kalah jayus. “Ohya… Kamu ingin kado apa untuk ulang tahunmu nanti?” tanya Refa.
“Ehm… apa yah? Andai saja aku bisa melihat kembali… Itu akan menjadi kado terindah untukku. Tapi itu takkan mungkin terjadi. Siapa coba yang mau memberikan matanya padaku? Aku tak mau menerima mata yang ada di rumah sakit. Nanti… Hiii” jawabku bergidik ngeri.
Andai saja keinginanku itu terwujud. Aku akan senang sekali. Tapi tetap saja tidak mungkin.
Jumat, 20 Desember 2002.Huh… aku benci bau rumah sakit. Kenapa sih operasi itu harus di rumah sakit? Padahal aku sudah menolak untuk dioperasi. Tapi kedua orang tuaku dan Refa tetap memaksaku untuk menjalaninya.
“Ayo Dik, ke ruang operasi. Operasi akan segera di mulai.” ujar salah satu perawat.
“Ba- Baik.” sahutku gemetar.
Sabtu, 22 Desember 2002. Hari ulang tahunku…
“Sayang, bagaimana keadaanmu nak?” tanya Papa dan Bunda.
“Entahlah Bun, Pa. Di mana Refa? Kenapa dia tidak datang? Papa, Bunda, aku akan baik-baik sajakan setelah perban ini di lepas? Aku tidak akan dihantui seperti yang ada di film kan?” tanyaku khawatir.
“Tidak sayang, kamu tenang saja…” sahut Bunda.
“Nah, sekarang kita buka perbannya.” ujar dokter.
Perlahan perban dibuka. Ada sinar yang memasuki mataku. Itu Bunda, Papa dan Dokter.
“Aku bisa melihat! Bunda, Papa aku bisa melihat! Terima kasih Dok, keinginanku terkabul. Ini hadiah istimewa untukku.” Ujarku histeris. “Tapi, Refa mana?” tanyaku.
“Ehm… ini surat buat kamu sayang dari Refa.” sahut Papa.
Ada aura kesedihan yang terpancar dari wajahnya. Ada apa sebenarnya? Lebih baik kubaca surat ini.
Dear Kaoru Andromeda
Hai sayang, bagaimana keadaanmu? Bagaimana dengan operasinya? Apakah lancar? Maafkan aku karena tak hadir di saat detik-detik kebahagiaan ini. Aku yang mendonorkan mataku untukmu, sebagai bukti cintaku padamu. Aku terkena kanker hati. Dan aku takkan bertahan lama. Aku tak bisa menemanimu selamanya. Maka kuberikan kedua bola mataku ini untukmu sebagai hadiah ulang tahun dariku. Kuharap kau senang menerimanya. Aku sudah kembali ke Jepang. Maafkan aku. Aku hanya ingin kau bahagia. Aku selalu mencintaimu.
Love
Nakamura Refa
Aku tak sanggup menahan air mataku. Jadi ini mata Refa. Aku… tak percaya. Kami harus berpisah? Dia meninggalkanku… Aku lebih bahagia aku tetap buta dan kami selalu bersama. Meskipun tetap tidak untuk selamanya…
“Sayang, relakanlah… Mungkin ini yang terbaik bagi kalian… Relakanlah ia, seperti ia merelakanmu.” ujar Bunda.
15 Mar 2010
HADIAH TERINDAH
Posted by kawaii neko at 9:51 PMKEIGO
Posted by kawaii neko at 9:42 PMHUJAN KEMBALI MENGGUYUR KOTAKU. SEAKAN MENEMANIKU YANG BERADA DALAM SUASANA DUKA. HARI INI GENAP SETAHUN SETELAH KEIGO MENINGGALKANKU. KEIGO SAHABATKU YANG PALING SETIA. YANG KINI TELAH TIADA. MENINGGALKANKU SENDIRI. SAHABAT YANG KURINDUKAN. KEIGO, APAKAH KAU MERINDUKANKU JUGA?
Aku mulai berteman dengannya sejak dua tahun yang lalu. Tepatnya ketika aku masih duduk dikelas 3 SMP. Keigo adalah teman sekelasku. Tapi karena sifatnya yang sedikit tertutup, tidak banyak teman yang dekat dengannya. Aku salah satunya. Mekipun aku teman sekelasnya sejak kelas dua. Pertemanan kami bermula dari insiden yang terjadi pada acara pernikahan teman ayahku. Saat itu pengantin wanita melemparkan bunga yang ia bawa, ke arah undangan. Akan tetapi bunga itu terlempar terlalu jauh. Dan jatuh mengenai Keigo yang tertidur ( aku masih tak mengerti bagaimana dia bisa tidur dalam acara yang sangat ramai). Aku sangat ingat bagaimana ekspresi mukanya ketika terkena bunga itu. Tapi, meskipun ditertawakan semua undangan yang hadir, dia malah cuek, seakan tidak terjadi apa-apa. Lalu aku mendekatinya dan mentertawainya. Memang bukan sikap yang terpuji, tapi itulah yang membuat aku berteman akrab dengannya. Memang awal pertemanan kami sedikit tidak wajar.
Selama dua tahun, dia selalu mengikutiku. Walaupun dia mengatakan kalau seleranya denganku sama, aku tidak percaya. Aku sangat yakin, dia terus mengikutiku karena hanya akulah teman dekatnya. Mulai dari bimbingan belajar sampai sekolah yang akan kutuju, semua dia ikuti. Padahal Keigo itu anak yang pintar. Anak yang bakal diterima di SMA manapun di kotaku ini. Kami memang berbeda. Aku bukanlah anak yang pintar. Nilaiku selalu pas-pasan. Tetapi aku punya semangat yang membara untuk mencapai apapun yang mau kucapai.
Seperti yang kulakukan saat dua minggu sebelum ujian nasional diadakan. Ketika aku sedang berusaha mengerjakan soal-soal yang kuanggap sulit, Keigo pasti sedang meminum secangkir cappucino kesukaannya sambil mendengarkan Mp3. Yah hanya dengan nilai dan prestasi yang dimilikinya saat ini, dan juga kemampuan bepikirnya yang menakjubkan, kuyakin dia lulus dengan sukses. Dan benar saja, Keigo menjadi juara 1 umum di sekolahku dan tentunya dia lulus dengan nilai yang sempurna. Aku tidak pernah heran kalau Keigo yang menjadi juara umum, kalau dia berada dalam peringkat 10 dari bawah baru aku akan merasa heran. Seperti Keigo, aku pun lulus. Yah walaupun tidak sebagus nilai yang diraihnya, tapi aku sudah sangat puas. Belum lagi ketika aku lulus ujian masuk SMA yang kuinginkan. Benar-benar tak dapat kupercaya. Sampai-sampai pengumuman itu aku pajang di mading kamarku.
Ternyata SMA itu menyenangkan. Kata teman-temanku SMA adalah saat yang bagus untuk mencari pacar. Entah hanya sekedar mencari atau sampai memilikinya. Yang pasti hingga akhir semester 1 aku masih belum memiliki pacar yang kuidam-idamkan. Entah mengapa teman laki-laki yang dekat denganku hanya Keigo yang selalu bersamaku. Temanku bilang aku tidak perlu mencari pacar, karena yang kucari sudah berada didekatku setiap saat (tidak saat ke toilet tentunya). Yang benar saja, aku dan Keigo hanya sebatas sahabat, tidak lebih. Bahkan ada yang mengatakan kalau sebenarnya Keigo menaruh hati padaku. Tentu saja aku tidak percaya. Yang benar saja, Keigo menyukaiku? Itu tidak mungkin. Tak ada yang menarik dariku. Menurutku aku sangat tidak pantas untuk menjadi kekasihnya. Benar-benar tidak mungkin.
Akan tetapi teman-temanku tetap yakin kalau Keigo menyukaiku, dengan didukung bukti, seperti Keigo yang menungguku di depan kelasku untuk mengajak pulang bersama, atau Keigo yang selalu membelikan minuman untukku setelah aku olahraga, atau Keigo yang SELALU bersamaku kemanapun aku pergi. Yah mau bagaimana lagi, kami memang bersahabat, jadi ya wajarkan kalau kami selalu bersama.
Namun, hal yang tak terduga dan tak pernah kubayangkan sebelumnya, terjadi padaku sebagai korban dan Keigo sebagai pelaku, tepatnya dua bulan setelah tahun baru. Dia menyatakan perasaannya padaku. Aku benar-benar tidak percaya. Karena bingung dan masih setengah tidak percaya, aku menolaknya. Dari wajahnya sangat terlihat kalau ia sangat kecewa. Sejak kejadian itu, aku tidak berani menatap wajah Keigo. Aku sering menolak ajakan-ajakannya. Bahkan aku sering memarahinya hanya karena hal-hal kecil yang sebenarnya tidak penting. Entah kenapa aku semakin menjauhinya. Hubunganku dengan Keigo semakin merenggang. Aku mulai menyibukkan diri dengan teman-temanku dan tugas-tugas sekolahku. Entah mengapa, aku menjadi seperti menghindari Keigo. Aku sendiri tak tahu apa yang membuatku menjauhi Keigo. Aku hanya merasa malu jika bertemu dengannya setelah kejadian itu. Hanya itu yang kutahu. Tapi aku tak tahu alasan pastinya.
Hari demi hariku terlewatkan tanpa adanya Keigo disampingku. Tak ada yang membelikanku minum, tak ada yang menungguku sepulang sekolah, dan tak ada yang menemaniku belajar. Meskipun teman-temanku selalu menemaniku setiap hari, aku merasa ada yang kurang. Yah...Keigo. Aku merindukannya. Keigo yang baik, Keigo yang perhatian, dan tentunya Keigo yang sabar dengan semua sifatku yang menyebalkan. Dengan mengingatnya aku sedikit merasa lebih baik. Dan aku sadar, aku merindukan Keigo, aku menyukai Keigo. Keigo sahabatku yang selalu bersamaku setiap saat. Sahabat yang kutolak dengan kasar.
Saat itu juga aku segera mencari taksi dan segera pergi ke rumah Keigo. Tentunya untuk menyatakan perasanku ini padanya. Aku harap aku tidak terlambat. Setelah sampai di depan rumah Keigo, aku tidak berani untuk menemuinya. Aku takut dia akan melakukan hal yang sama dengan seperti yang aku lakukan padanya dulu. Tapi ternyata dia tidak melakukannya. Ya, dia memang tidak melakukannya. Tapi dengan melihat saja aku tahu, kalau aku terlambat. Terlambat dalam segala hal. Terlambat menyadari betapa baiknya Keigo, dan yang utama, aku terlambat untuk menyadari kalau aku mencintainya. Aku merasakan badanku yang mulai lemas. Aku benar-benar tak percaya dengan apa yang kulihat. Keigo sedang bersama dengan gadis manis. Aku tak suka mengatakannya, tapi mereka terlihat sangat akrab dan sangat, serasi.
Setelah hari itu, aku menjadi murung. Aku jarang bersama teman-temanku. Kini aku sendiri. Aku menjadi orang yang tidak peka dengan keadaan sekitarku. Perasaanku kepada Keigo tetap kupendam. Aku tak pernah menceritakannya pada siapapun. Bahkan mungkin takkan pernah. Hingga aku mengalami kejadian yang menjadi kejadian terburuk bagiku. Aku sangat ingin tidak mempercayainya, tapi aku melihat sendiri. Dan sebelum aku tersadar akan apa yang kulihat, dia telah pergi. Pergi selama-lamanya. Meninggalkanku. Keigo meninggalkanku untuk selama-lamanya sebelum aku sempat mengatakannya. Sebelum aku sempat menyatakan perasaanku padanya. Perasaanku yang tulus apa adanya meskipun aku terlambat menyadarinya. Tapi ini benar-benar perasaan yang tulus. Aku sangat menyesal. Aku menyalahkan diriku sendiri. Mengapa tak kusadari sejak dulu perasaan ini? Mungkin jika saja aku menyadarinya lebih cepat, aku takkan kehilangan Keigo. Aku takkan pernah kehilangan Keigo untuk selama-lamanya.
Kini, aku berada di dalam kamarku. Dalam suasana duka. Tepat setahun setelah Keigo meninggalkanku dalam kecelakaan mobil yang dialaminya. Kecelakaan yang merenggut nyawanya. Kini aku menggenggam sepucuk surat. Surat peninggalan Keigo yang kutemukan saat aku menolongnya. Surat yang tak pernah berani kubaca. Aku bahkan tak berani untuk membuka amplopnya. Dan kini akan kubuka…
Dear Nao
Hi, bagaimana keadaanmu? Aku sering melihatmu murung. Apakah kau memiliki masalah? Aku benar-benar tak bisa melupakanmu. Maaf kalau kata-kataku ini membuatmu kesal. Aku tahu kau hanya melihatku sebagai seorang sahabat. Aku telah cukup lama bertahan untuk bersabar, untuk menunggumu tidak lagi melihatku hanya sebagai sahabat. Tapi lebih dari itu. Kau adalah satu-satunya gadis yang kusayangi, dan kucintai. Apa yang kukatakan ini benar-benar tulus dari hatiku. Aku juga telah berusaha untuk tidak menyusahkanmu setelah pernyataan cintaku waktu itu. Tapi aku tak mengerti mengapa kau semakin menjauhiku.
Aku tulis surat ini untuk mengatakannya padamu mengenai dua hal. Pertama, aku akan pergi ke Jepang untuk melanjutkan sekolahku, dan untuk selamanya. Aku harap kau takkan melupakanku. Dan yang kedua, aku masih tetap, mencintaimu. Untuk kini dan selamanya. Kalau kau tak membalas perasaanku juga surat ini, tak apa. Asalkan kau mau membaca surat ini dan menerima kalung yang kuikutsertakan dalam amplop ini. Nao, aku takkan melupakanmu.
Keigo Hayashi
Tanganku gemetar. Aku tak sanggup lagi untuk membendung air mataku. Aku menyesal. Benar-benar menyesal. Keigo maafkan aku. Maafkan segala keegoisanku. Andai bisa kuperbaiki semua ini. Keigo, kalung ini akan menjadi hartaku yang paling berharga. Akan kujaga dengan baik, takkan kulepaskan lagi kesempatan ini. Aku sangat senang menerima kalung ini. Keigo, aku mencintaimu… Kini dan Selamanya…



