15 Mar 2010

HADIAH TERINDAH

“ Pa, lama banget sih sampainya? Masih jauh ya…”
“Sabar sayang. Sebentar lagi juga sampai.”
Huh… Papa ini. Semenjak tadi hanya itu yang diucapkannya. Aku bosan mendengarnya.


Namaku Kaoru Andromeda. Usiaku 16 tahun. Ayahku seorang pengusaha terkenal. Ibuku seorang wanita karier yang hebat. Semua orang tahu itu. Dan semua orang tahu mengenai perceraian kedua orang tuaku. Pertama kali aku mendengar keputusan ini, aku sangat terkejut. Aku tidak siap jika harus tinggal dengan salah satu orang tuaku atau bahkan tidak dengan keduanya, alias nge-kost. Oh.. tidak. Tapi apa yang bias kuperbuat. Keputusan yang mereka buat sudah bulat. Tak bisa ditawar lagi. Dan akhirnya seperti ini. Aku harus tinggal di dua apartemen. Seminggu di apartemen bunda. Seminggu lagi di apartemen papa. Coba kalian bayangkan, betapa repotnya harus berpindah tempat tinggal setiap minggu.

“Pa, kita mau kemana sih sebenarnya? Kok jauh banget yah… Terus kenapa kita bawa koper? Papa mau pindah apartemen yah?”
“Ehm… yah mungkin bisa dibilang seperti itu.”
“Memang kenapa sama apartemen yang lama?”
“Tidak apa-apa . Hanya saja kamu harus papa jauhkan dari bundamu itu.”
“HAH?!?!? Jadi kita pergi dalam rangka menghindari bunda, begitu? Aku nggak menyangka, Papa ingin misahin aku dari bunda. Pa, Bunda itu ibu kandung aku. Apa salah aku dekat dengannya? Aku masih memerlukan kasih sayangnya… Lho, kenapa berhenti Pa? Pa, kok keluar?”

Huh… Pusing banget. Aku nggak ngerti sama Papa. Aku harus bicara.
“Pa, jangan ngerokok. Kan sudah janji.” Ujarku mengingatkan. “Pa, kenapa sih papa mau misahin aku sama bunda? Papa tahukan dari dulu aku sudah dekat sama bunda. Dulu Papa nggak kayak begini.” Ujarku lagi.
“Papa mau ke toko seberang. Kamu mau titip apa?” tanya Papa.
“Nggak.” Sahutku singkat.
“Ya sudah.” sahutnya tak kalah singkat.
Papa ini. Kenapa tidak mau mengerti anakmu sedikit?
“Ehm? PAPA..AWAS…!!!”


Rabu, 3 Maret 2002.
“Ini sayang, minum kamu.”
“Makasih Pa. Pa bunda mana? Belum datang yah?”
“Belum. Mungkin sebentar lagi.”
Hem… Bunda lama sekali. Aku sudah tak sabar ingin cerita kepadanya. Tentang kesedihan yang kurasakan sejak 4 tahun yang lalu… Kecelakaan yang tidak hanya membuatku trauma dengan suara klakson mobil, tetapi juga membuatku kehilangan kedua mataku. Yah, sekarang aku menjadi gadis buta yang tak bisa melakukan apa-apa tanpa tongkatku.

Minggu, 4 April 2002. Hari ini cerah. Itu yang kudengar dari Papa. Papa juga bilang, akan mengajakku berjalan-jalan ke suatu tempat. Papa bilang tempatnya sangat indah. Tapi aku tak bisa melihat. Aku takkan tahu seperti apa keindahan tempat itu. Lebih baik aku cepat menyelesaikan sarapanku.
“Sayang, kamu sudah selesai sarapan? Ayo kita berangkat.” tanya Papa.
“Sudah Pa. Ayo.” Ujarku antara bersemangat dan tidak.
Hembusan anginnya sangat terasa. Begitu sejuk. Sangat menenangkan hati. Sepertinya tempat ini memang indah. Seandainya aku bisa melihatnya…
“Kaoru… Ayo sayang, pegang tangan Papa. Hati-hati sayang. Itu Bunda kamu.”
“Bunda? Bunda datang Pa?” ujarku senang.
“Iya sayang. Dialah yang memberikan ide ini. Halo Sheina, apa kabar?” kata Papa.
“Hai Jeff.. Baik. Hai sayang... Mama kangen sekali sama kamu. Apa kabar? Kamu sehat? Bagaimana, apa kamu suka keadaan di sini?” ujar Bunda.
“Bunda… aku kangen banget sama Bunda… Aku sehat. Iya, aku suka. Keadaan di sini begitu tenang. Bunda apakah di dekat sini ada danau atau sungai? Aku seperti mendengar suara air.” Ujarku dengan semangat.
“Benar kok. Memang ada danau. Kamu mau main air? Biar Bunda antar.” sahut Bunda.
“Iya Bunda.”
Wah… airnya segar sekali. Bunda bilang airnya juga jernih. Ternyata di Jakarta ada tempat sebagus ini… Ehm… ada suara orang. Sepertinya laki-laki. Dari suaranya sepertinya sebaya denganku. Ehm… Enak sekali bisa jalan-jalan sama teman-teman. Sejak mataku buta, tak ada temanku yang mau mengajakku jalan-jalan. Aku sangat iri. Mereka bisa tertawa lepas. Sudah saja ah… Di sini semakin membuatku iri. Tiba-tiba…
“KYAA…!!” seruku. Aku jatuh. Aku nggak bisa berdiri. Dimana tongkatku.
“Kamu baik-baik saja? Bisa berdiri? Pegang tanganku.”

Kamis, 10 Oktober 2002.
“Sayang. Refa datang...”
Refa sudah datang. Nakamura Refa, pacarku yang sangat baik sudah datang. Dia ini blasteran Jepang dan Indonesia. Walaupun sudah tinggal di Indonesia cukup lama, aksennya tetap aksen asli orang Jepang. Tepatnya sih Osaka.
“Iya pa, aku turun.” sahutku.
“Nggak perlu turun… Aku sudah di sini kok. Hehehe…” sahut Refa dengan aksennya yang khas.
“Kok nggak ada suara naik tangga. Wah kamu melayang yah?” tanyaku.
“Nggak, aku pakai tali, makanya nggak ada suara naik tangga.” Sahutnya nggak kalah jayus. “Ohya… Kamu ingin kado apa untuk ulang tahunmu nanti?” tanya Refa.
“Ehm… apa yah? Andai saja aku bisa melihat kembali… Itu akan menjadi kado terindah untukku. Tapi itu takkan mungkin terjadi. Siapa coba yang mau memberikan matanya padaku? Aku tak mau menerima mata yang ada di rumah sakit. Nanti… Hiii” jawabku bergidik ngeri.
Andai saja keinginanku itu terwujud. Aku akan senang sekali. Tapi tetap saja tidak mungkin.
Jumat, 20 Desember 2002.Huh… aku benci bau rumah sakit. Kenapa sih operasi itu harus di rumah sakit? Padahal aku sudah menolak untuk dioperasi. Tapi kedua orang tuaku dan Refa tetap memaksaku untuk menjalaninya.
“Ayo Dik, ke ruang operasi. Operasi akan segera di mulai.” ujar salah satu perawat.
“Ba- Baik.” sahutku gemetar.

Sabtu, 22 Desember 2002. Hari ulang tahunku…
“Sayang, bagaimana keadaanmu nak?” tanya Papa dan Bunda.
“Entahlah Bun, Pa. Di mana Refa? Kenapa dia tidak datang? Papa, Bunda, aku akan baik-baik sajakan setelah perban ini di lepas? Aku tidak akan dihantui seperti yang ada di film kan?” tanyaku khawatir.
“Tidak sayang, kamu tenang saja…” sahut Bunda.
“Nah, sekarang kita buka perbannya.” ujar dokter.
Perlahan perban dibuka. Ada sinar yang memasuki mataku. Itu Bunda, Papa dan Dokter.
“Aku bisa melihat! Bunda, Papa aku bisa melihat! Terima kasih Dok, keinginanku terkabul. Ini hadiah istimewa untukku.” Ujarku histeris. “Tapi, Refa mana?” tanyaku.
“Ehm… ini surat buat kamu sayang dari Refa.” sahut Papa.
Ada aura kesedihan yang terpancar dari wajahnya. Ada apa sebenarnya? Lebih baik kubaca surat ini.

Dear Kaoru Andromeda

Hai sayang, bagaimana keadaanmu? Bagaimana dengan operasinya? Apakah lancar? Maafkan aku karena tak hadir di saat detik-detik kebahagiaan ini. Aku yang mendonorkan mataku untukmu, sebagai bukti cintaku padamu. Aku terkena kanker hati. Dan aku takkan bertahan lama. Aku tak bisa menemanimu selamanya. Maka kuberikan kedua bola mataku ini untukmu sebagai hadiah ulang tahun dariku. Kuharap kau senang menerimanya. Aku sudah kembali ke Jepang. Maafkan aku. Aku hanya ingin kau bahagia. Aku selalu mencintaimu.
Love
Nakamura Refa

Aku tak sanggup menahan air mataku. Jadi ini mata Refa. Aku… tak percaya. Kami harus berpisah? Dia meninggalkanku… Aku lebih bahagia aku tetap buta dan kami selalu bersama. Meskipun tetap tidak untuk selamanya…
“Sayang, relakanlah… Mungkin ini yang terbaik bagi kalian… Relakanlah ia, seperti ia merelakanmu.” ujar Bunda.


0 comments:

Posting Komentar